Perjalanan dari Jakarta ke Bandar Lampung

Hari itu Jum'at, kebetulan aku piket jaga Kantor, semalam di kantor aku habiskan dengan ngobrol ama teman2 dan browsing2 gak jelas. Aku baru bisa tidur di Kantor pukul 24.00 lebih. Paginya, Sabtu baru bangun pukul 06.15, baru setengah jam loading bangun tidur, seorang teman mangajak aku jalan. Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya, tapi aku tanya dia kemana rencana perginya, temanku bilang terserah aku. Setelah kupikir, aku terpikir untuk jalan-jalan ke tempat yang belum pernah aku datangi. Aku terpikir untuk pergi ke Merak. karena aku pikir tentunya lebih menarik ke Merak krn selama ini aku hanya liat dan dengar berita tentang merak hanya di TV aja.
Langsung aja aku menuju laptopku, lalu browsing semua tentang angkutan dari Jakarta ke Merak, dan langsung aja aku memilih jadwal kereta api ekonomi AC - KALIMAYA, yang berangkat dari Stasiun Tanah Abang ke stasiun Merak pukul 09.30. Tanpa lama2, aku langsung mandi, lalu ambil persediaan yang aku perlukan seperti, Charge HP, PowerBank, Tissue, Cbat-obatan Kecil, Kaos, Pakaian Dalam, Sabun Mandi, dll nya.

Dari tempatku, aku naik Kopaja menuju Stasiun Tanah Abang cukup dengan membayar Rp.3.000,- per orang. Pukul 08.30, aku turun Kopaja di depan stasiun Tanah Abang, aku langsung masuk dan membeli tiket Kereta Api KALIMAYA dengan harga tiket Rp.30.000,- per orang. Jadwal keberangkatan kereta baru pukul 09.30, masih ada 1jam untuk mengisi perut sebelum naik kereta, karena aku tahu kalo di kereta tidak ada yang jual makanan selain kantin restorka, yang tentunya harganya lbh mahal. Aku keluar stasiun dulu untuk mencari warung tegal. Setelah makan kenyang murah meriah, akupun balik ke Stasiun untuk siap2 berangkat karena pemberangkatan 15 menit lagi. Begitu sdh di dalam jalur tunggu, ternyata kereta telat 30menit dari jadwal keberangkatan. Pas pukul 10.00 akhirnya aku naik dan 5 menit kemudian kereta mulai berangkat. Selanjutnya..
Kereta Kalimaya lumayan bagus, walaupun kelas ekonomi seharga 30rb, tapi dia cukup bersih, nyaman banget dan tentunya dingin. Tidak ada pedagang asongan yg masuk. Semua berjalan sesuai rencanaku. Perjalanan Jakarta ke Merak cukup menyenangkan, pemandangan yang cukup indah selama perjalanan. Pukul 12.20, kereta sudah nyampe di stasiun Merak. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di ujung barat pulau Jawa ini yang selama ini hanya kulihat di TV.

Begitu menginjakkan kakiku di stasiun, kulihat ada pintu keluar berupa tangga penyeberangan langsung menuju ke Kapal Ferry. setelah ke berpikir, lalu aku menawarkan ke temanku untuk naik Ferry ASDP, yang setelah aku liat cuman seharga tiket Rp.13.000 per orang dewasa dan Rp.8.000 per anak2. Setelah melihat isi dompet masing2, maka temanku sepakat denganku untuk sekalian menyeberang ke pelabuhan Bakaheuni, Lampung Selatan.

Setelah naik kapal Ferry, ternyata aku harus menunggu kapal terisi penuh baik terisi penumpang maupun kendaraan bermotor, mulai dari sepeda motor sampai dengan truck besar. Sambil menunggu Kapal siap berangkat, aku keliling kapal melihat2 fasilitas apa yang diberikan pihak operator kapal dengan harga tiket 13rb itu. kapal terdiri dari tiga lantai, untuk lantai bawah, khusus untuk parkir truk dan bus serta kendaraan roda 4 lainnya. Di lantai 2, di gunakan untuk kendaraan roda 4 dan roda 2 serta ada kamar atau ruangan khusus Executif dengan membayar uang tambahan sebesar Rp.7.000- Rp.10.000 tegantung fasilitas didalamnya. Dan untuk lantai paling atas khusus penumpang yang duduk di luar yang bisa merasakan derasnya angin laut. Bagi yang tidak tebiasa kena angin, dijamin bias masuk angin bener. Untuk Kafetaria juga tersedia, tp harganya tentu lbh mahal dr harga normal, sebagai contoh, aku beli kopi gelas kecil dihargai Rp.8.000, tapi ya lumayan untuk menghangatkan badan.

Perjalanan Merak - Bakaheuni, ditempuh selama kurang lbh 2 jam. Dan setelah kuhitung, perjalanan cuman 1jam 45mnt. Tapi yang membikin total perjalanan laut jadi lebih lama, karena kapal harus antri untuk bersandar di pelabuhan. Jadi kapalku harus menunggu kapal Ferry yang lagi bersandar untuk mengisi muatannya labih dahulu. Waktu menunggu itu kurang lebih satu jam tergantung ramai tidaknya penumpang dan kendaraan yang ada pada saat itu. Sehingga yang bikin jengkel bukan perjalanan kapalnya, tetapi pada saat kapal menunggu antrian bersandar itu tadi.

Begitu turun dari kapal, aku pun turun menuju ke pangkalan angkutan umum yang berada di halaman Pelabuhan Bakaheuni. Tidak banyak pilihan angkutan yang berada disitu, yang ada cuman bus dan angkutan travel. Untuk angkutan bus dibagi menjadi dua, yaitu, Bus dengan AC seharga 25rb dan Bus tanpa AC sekitar 20rb rupiah. Sedang untuk angkutan travel, sebenarnya armadanya lumayan bagus seperti APV, Luxio dan Avanza, akan tetapi harganya lebih mahal, sekitar 35-40rb rupiah. Tapi kita jgn terkecoh oleh ajakan2 para kenek angkutan tersebut yang sedikit memaksa. Bertingkah dan berlagak saja seperti kita sdh biasa di tempat tersebut.

Akhirnya aku memilih naik bus AC dengan tujuan trayek ke Rajabasa. Dengan tiket seharga 25rb rupiah, aku menuju kota Banjar Lampung. Perjalananku pertama kali menuju Bandar Lampung ini cukup mengesanka. Tidak bisa kubayangkan kondisi jalanan utama atau yang biasa kita kenal dengan jalan trans Sumatra ini begitu mengagumkan. Jalanan tersebut labih didominasi dengan tanjakan dan turunan, serta jalanan yang berkelok-kelok. Sepanjang jalan mulai pelabuhan, banyak dijumpai Truk-truk yang bermuatan penuh menaiki jalan yang mendaki dengan bergerak pelan-pelan. Trusk-truk itu yang membuat perjalanan lebih lama, karena kecepatan mereka yang cukup lambat, apalagi kalau jalanan menanjak. Bus yang menurut perhitunganku bisa nyampai di Bandar Lampung dengan 2 jam perjalanan, akhirnya bisa sampai dengan 3-4 jam perjalanan.

Begitu memasuki Kota Bandar Lampung, aku disarankan turun di daerah Kali Balok atau di Jembatan layang jalan Antasari, karena bus tidak memasuki tengah kota. Begitu turun di Kali Balok, aku naik angkot menuju ke sebuah penginapan murah di jalan Antasari seharga 200rb rupih. Hotelnya lumayan bagus, dan tentunya untuk ukuran modal cekak seperti perjalananku kali ini. Demikian sedikit yang aku bisa ceritakan mengenai perjalananku ke Bandar Lampung dari Jakarta. Semoga dapat bermanfaat.